"Embun Fana"
Oleh : Wahyuni Wahid
Aku menetes, mengalir, jatuh dan terhempas
Tak ada kata yang indah untuk ini
Hancur, perih, lukaku terkoyak sunyi
Begini kah tetesan embun kepiluan
Hanya hadir sebagai pemanis mentari di pagi hari
Ku coba untuk mengoyak, mengoyak sunyi
Membuyarkan setiap alunan melodi fana
Kenapa kau menghancurkan angan yang hendak bergerak maju?
Hingga kau membuat semua jemari menjadi lemah,
Mata yang enggan untuk menatap, dan bibir yang kelu saat
berucap
berucap
membungkam setiap kata yang ingin tercuat
Kau, kau, kau membuyarkan setiap keping asa dalam desir darahku
Dum, dum, dum, hanya debaran ini yang masih setia
Setia mendebarkan keping-keping yang tersisa di jiwaku
Apakah kau masih tak peka juga? Kau selalu sibuk berkelana
dengan waktu
dengan waktu
Hingga aku, kau buat terperosok dalam jurang fanamu
Cukup kini keretakanku, aku retak dan kini bayangku mulai
lelah
lelah
Aku ingin pergi namun kau berusaha menahanku
Kau berteriak padaku, “jangan pergi!”
Sudah, usai sudah semua kefanaan ini
Tak usah kau berbalik arah padaku
Sikapmu itu telah jelas sudah sayang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar